Ilmu Kita-Kita
Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, Januari 18, 2015

Mentualangi Lahirnya Sang Pendekar
Oleh : Nurus Solehen 
(Kader AFIC dan Pegiat LPM Universitas Madura)
Maulid Nabi sebagaimana yang dikumandangkan oleh umat Islam adalah perayaan kelahiran seorang prototipe –dunia yaitu Nabi Muhammad SAW. Beliau Suri teladan umat manusia sebagai tokoh inspirator Islam. Beliau satu-satunya Makhluk yang secara manusiawi memiliki keistimewaan spesial, dari fisik, spritual, moral, dan jati diri yang mempribadi.
Dengan restorasi perjuangannya, Islam –pun tersiar secara merata. Dari aplikatif dakwah, hingga menyirami banyak pengikut serta golongan. Yang secara tidak langsung mereka mengakui keasaan Tuhan bahwa Nabi Muhammad utusanNya. Tercatatlah sebuah sandaran tradisi umat Islam jauh setelah beliau wafat. Peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.
More.... | komentar

Masjid Agung Sumenep

Senin, September 01, 2014

M
asjid Agung Sumenep secara geografis terletak di pusat kota Sumenep, tepatnya di sebelah  barat taman bunga di alun-alun kota Sumenep. Masjid Agung Sumenep didirikan oleh Pangeran Natakusumo, atau juga dikenal dengan sebutan Panembahan Simolo yang memunyai nama asli Asiruddin. Pangeran Natakusumo adalah putera dari Bindara Saod dari hasil pernikahannya dengan Ratu Tirtanegara yang ketika itu menjabat sebagai adipati di Sumenep. Tidak diketahui secara pasti kapan masjid tersebut dibangun, tapi berdasarkan data yang dapat ditemukan masjid tersebut dirampungkan pada tahun 126 H. Arsitek pembagunan masjid tersebut bernama Law Pia Ngo, seorang Tionghoa yang berasal dari pelarian Semarang.
Bangunan Masjid Agung Sumenap hingga saat ini masih terlihat kokoh dengan sentuhan karakteristik arsitektur klasik yakni memadukan karakteristik arsitektur China, Eropa dan Jawa. Sentuhan karakteristik arsitektur Eropa terlihat dari bentuk dindingnya yang kuat dan tebal. Sentuhan karakteristik arsitektur China terlihat pada ornamen-ornamen yang nampak pada dinding-dinding, terutama pada bagian pengimaman dan bentuk ujung kubahnya. Sementara Sentuhan karakteristik arsitektur Jawa bisa terlihat pada model dan ukiran yang nampak pada kusen pintu dan jendelanya.
Ketika hendak memasuki pintu utama masjid, kita bisa melihat beberapa wasiat yang berasal dari pangeran Natakusumo yang terletak di sebelah kanan dan sebelah kiri pintu utama. Pada wasiat pertama, pangeran Natakusumo berpesan bahwa Masjid Agung tersebut dibangun sebagai tempat ibadah masyarakat Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sementara pada wasiat kedua, Pangearan Natakusuma berpesan kepada para penguasa dan pemuka agama agar tetap menegakkan kebajikan serta manjaga eksistensi masjid sebagai jalan kebajiakan dan ikhlas karena Allah. Harus tetap menjaga menjaga masjid dari berbagai bentuk kerusakan, baik kerusakan secara materil maupun kerusakan secara moral. Wasiat tersebut ditulis dengan bahasa jawa klasik dengan menggunakan tulisan arab yang menggunakan bingkai berbentuk buah delima. Maksud dari buah deliama adalah agar keturunannya tetap menjaga persaudaran, persatuan dan kesatuan.
Masjid Agung Sumenep secara keseluruhan memunyai sembilan pintu dan enam jendela dengan ukuran yang sangat besar. Bentuk kusen dan daun pintu maupun jendelanya tampak dengan wajah yang berkarakter arsitektur Jawa klasik. Sembilan pintu tersebut termasuk tiga pintu utama, yaitu yang berada di bagian depan, dan dua lagi di samping kanan dan kiri. Pada tiga daun pintu utama dilengkapi dengan motif ukiran bunga yang bernuansa Jawa klasik yang sangat estetik.  Pada bagian depan terdapat lima pintu dengan satu pintu uatama. Satu pintu utama tersebut mengisyaratkan Nabi Muhammad, sementara empat pintu lainnya mengisyratkan Khulafā’ al-Rasyidīn. Pada bagian dalam masjid terdapat 13 pilar yang kokoh sebagai penopang utama bangunan. Jumalah 13 tersebut mengisyaratkan “aqaid 13” yakni sifat wajib bagi Allah dalam teologi Asy‘airiyah yang dihitung dari sifat wujūd sampai kalām. Belum ada penjelasan secara filosofis tentang apa yang dimaksud dengan “aqaid 13” tersebut. Sementara pada bagian serambi masjid terdapat 20 pilar yang mengisyaratkan 20 sifat tuhan secara keseluran dalam teologi Asy‘ariyah. Salah satu yang unik adalah bentuk pengimamannya. Karakteristik ornaminnya sangat khas dengan arsitektur China, bahkan terbuat dari keramik-keramik yang bermotif China. Yang unik adalah bentuknya berbeda dari bentuk pengimaman masjid pada umumnya yang mempunyai satu pengimaman dan satu mihrab. Sementara di masjid ini memunyai satu pengimaman dan dua mihrab di kedua sisi kanan dan kiri. Pada bagian atap masjid sama dengan bentuk atap masjid jawa pada umumnya, yakni dengan bentuk jonglo tiga tingkat, yang paling atas berbentuk limas menjulang ke atas. Pada ujung limas ini terdapat kubah kecil tiga tingkat dengan karakteristik arsitektur China. Ujung kubah kecil yang terbuat dari batu geok tersebut dalam kepercayaan Tionghoa memunyai tujuan menolak segala macam bencana dan meminta keselamatan kepada yang Kuasa. Pada serambi bagian depan, tepatnya di bagian timur laut terdapat sebuah beduk dengan diameter lingkaran ± 1,5 M. Beduk tersebut adalah beduk yang memang sudah ada sejak masjid ini berdiri. Yang paling menarik dari bangunan tua ini adalah gapuranya. Gapura tersebut nampak dengan gaya arsitektur China-Eropa dan sedikit sentuhan arsitektur Jawa yang memadu dengan sangat eksotis. Di dalam ruangan gapura lantai atas terdapat sebuah beduk dengan ukuran sangat besar, yang konon merupakan salah satu beduk terbesar di Indonesia. Hingga saat ini secara keseluruhan bangunan masjid ini ada perubahan yang sangat berarti dari bentuk aslinya, kecuali pembaharuan warna pada bagian-bagian tertentu saja, dan pemanbahan lokasi serambi sesuai kepentingan kapasitas yang lebih luas, serta penggantian lantai dari bentuk aslinya menjadi keramik.
Sampai sekarang Masjid Agung Sumenep tetap berfungsi sebagai sentral aktifitas keagamaan masyarakat Sumenep. Selain menjadi kebanggaan masyarakat setempat, masjid Masjid Agung juga menarik minat banyak pengunjung dari berbagai penjuru karena menyimpan nilai-nilai sejarah, religius dan sentuhan arsitektur klasik yang sangat memukau. Pasalnya sudah banyak berbagai penelitian yang dilakukan oleh beberapa lembaga penelitian dan perguruan tinggi di Indonesia, tapi belum ada hasil penelitian yang menjelaskan secara lengkap dan menyeluruh mengenai masjid kuno ini.   

Oleh : Abdus Syakur (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

More.... | komentar

MUSIK DAN POTRET KEHIDUPAN

Minggu, Agustus 31, 2014


Oleh : Amien Tohari
Mungkin semua mengangguk membenarkan bahwa hampir semua lumrah dengan musik. Musik mengalun dalam detak jantung kehidupan sehari-hari. Dimana-mana, pesta atau apapun acaranya tak lengang dari alunan nada yang bernama musik. Hampir semua orang menyukainya sesuai selera genre musik masing-masing mereka. Musik adalah suara yang tak biasa. Musik adalah susunan nada dan irama yang berjalin berkelindan menghasilkan sebuah bunyi yang syahdu didengar. Tidak hanya keindahan, jalinan itu memberi kekuatan, ketenangan, inspirasi dan segalanya. Tergantung dalam kondisi seperti apa mereka menerima alunan suara itu. Musik menggugah jiwa.
Tapi musik bukan semata soal hiburan, mainan jiwa dan segala yang bernuansa estetika. Musik berjalinan erat dengan kehidupan sosial. Musik menyerap denyut nadi kehidupan, diramunya dalam sebuah lirik, diperindahnya dengan nada, dan lalu diperdengarkannya sehingga banyak orang menikmati. Mendengar musik semacam ini, orang-orang tidak hanya mendapati alunan keindahan melainkan syair yang sarat arti, kegelisahan sang musisi, dan fenomena kehidupan yang tak jarang kita abaikan. Musik ini menggelitik kesadaran, perasaan dan mengajak kita menyerap kehidupan.
Bagi musisi (sejenis) ini, potret kehidupan adalah sumber inspirasi. Sebut saja sebagian seperti sekumpulan pengamen jalanan, rumah-rumah kumuh berpenyakitan, perempuan jelita yang bekerja demi sesuap makan, demi anak dan masa depan, anak kecil kumal penjual koran dan segala kerasnya kehidupan, adalah satu potret sedih kehidupan. Sedangkan korupsi, pencitraan, hingar-bingar kekuasaan, dan adu lisan demi kehormatan para pejabat publik adalah potret lain yang memuakkan. Semua itu ia serap dengan kedalaman hati dan ia rangkum dalam syairnya.
Alhasil, pada satu sisi yang terdengar adalah narasi liku-liku kehidupan, jerit yang tak kunjung padam, dan  segala yang menyayat jiwa semata agar publik pendengar tergerak hatinya. Dan pada sisi lain, kerakusan, ketakjujuran, dan segala cerita  memuakkan para elit. Pendengar tidak lain kecuali semakin kritis dan, pada tingkat yang sebenarnya tidak kita harapkan, kehilangan kepercayaan kepada pemerintah. Apalah arti pemerintah, apabila rakyat (yang diperintah) sudah semakin kehilangan kepercayaan kepada mereka?
Di Indonesia, kita mengenal banyak musisi semacam ini. Tembang musiknya yang kritis dan sarat dengan problem sosial menggelegar di jagad nusantara ini. Sebut satu saja, Iwan Fals, sang penggubah “Manusia Setengah Dewa”. Ia adalah ikon dari musik jenis ini. Musiknya terus mengalir sepanjang waktu. Pengagumnnya berjumlah jutaan yang tergabung dalam komunitas yang tersebar secara nasional, dikenal dengan “OI” atau “Orang Indonesia Asli”. Lirik-liriknya, satu sisi terdengar keras, pedas, dan tegas. Tapi bagi mereka yang memberi ruang pada kejujuran, lagu-lagunya terdengar nyata dan menyentuh kesadaran jiwa. Syair yang dia gubah benar-benar mencerminkan potret riil kehidupan.
Lewat “Ujung Aspal Pondok Gede”, sang musisi setengah Dewa ini berhasil mengangkat potret nyata masyarakat pribumi perkotaan yang – sebagai akibat serakahnya pembangunan – seinci demi seinci luas kampungnya terenggut dan akhirnya sepenuhnya hilang dari tangannya. Wajah perkampungan yang sebelumnya penuh “rimbun nan anggun” kontras berubah kerasnya kota manakala bermunculan angkuh tembok pabrik berdiri. Pada potongan lirik yang lain, dia bernyanyi: sampai saat tanah moyangku, tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota, terlihat murung wajah pribumi, terdengar langkah hewan bernyanyi.
Pada lagu berjudul “Sore Tugu Pancoran”, si Budi adalah potret anak kecil perkotaan. Korban kerasnya kehidupan kota dimana dia harus memikul sendiri segala derita dan tanggung jawabnya. Ia mengerjakan segala apa yang bisa dikerjakan termasuk menjadi penjual jajakan koran. Ia berjuang sendiri berkelahi dengan waktu demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu. Masih banyak lagi lagu-lagunya yang tak kalah menggugah.
Iwan Fals tidak sendirian. Musisi yang juga peka dan kerap mengangkat potret kehidupan sosial tidaklah sedikit. Kita mengenal grup musik rock God Bless yang menyindir orang-orang yang tergila-gila kehidupan kota lebih daripada kampungnya. Lebih baik di sini, rumah kita sendiri. Segala nikmat dan anugerah yang kuasa. Semuanya ada di sini. Sekelumit potongan dari lagu “Rumah Kita”nya, dan banyak lagi. Kita mengenal musisi Ebiet G. Ade, dan banyak yang lainnya.
Pada musisi-musisi semacam mereka, kita patut berterima kasih. Mereka berkarya bukan semata demi kecemerlangan karirnya. Lirik-lirik lagunya yang sarat moral dan cermin dari potret kehidupan sosial membuktikan kenyataan lain: dia bernyanyi dan menumbuhkan kesadaran publik sekaligus. Mereka telah menggugah kesadaran hati jutaan pengagumnya. Mereka mengajak publik pendengar untuk merasakan kesedihan dan keprihatinan saudara-saudaranya yang kebetulan hidup dalam penderitaan. Jutaan umat manusia tersentuh dan tersadarkan lewat satu sentuhan liriknya. Kita tidak dapat lain kecuali mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan bukan sekedar panggilan karir dan kekayaan materiil melainkan panggilan jiwa.
Ciputat, 16 Juni 2014

Ilmu Politik FISIP
More.... | komentar

Entri Populer

 
Support : Creating Website | Ka-conk Mahfud
Copyright © 2014. Suara AF-IC - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger