Ilmu Kita-Kita
Diberdayakan oleh Blogger.
Mentualangi Lahirnya Sang Pendekar
Oleh : Nurus Solehen 
(Kader AFIC dan Pegiat LPM Universitas Madura)
Maulid Nabi sebagaimana yang dikumandangkan oleh umat Islam adalah perayaan kelahiran seorang prototipe –dunia yaitu Nabi Muhammad SAW. Beliau Suri teladan umat manusia sebagai tokoh inspirator Islam. Beliau satu-satunya Makhluk yang secara manusiawi memiliki keistimewaan spesial, dari fisik, spritual, moral, dan jati diri yang mempribadi.
Dengan restorasi perjuangannya, Islam –pun tersiar secara merata. Dari aplikatif dakwah, hingga menyirami banyak pengikut serta golongan. Yang secara tidak langsung mereka mengakui keasaan Tuhan bahwa Nabi Muhammad utusanNya. Tercatatlah sebuah sandaran tradisi umat Islam jauh setelah beliau wafat. Peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.

Banyak versi untuk merayapi data sejarah diadakannya sebuah perayaan Maulid Nabi pertama di dunia. Sebagai referensi yang baku banyak kutipan yang menegaskan perayaan Maulid Nabi lahir dari golongan seseorang yang pemberani, alim dan adil. Ia adalah Raja Irbil bernama Muzhaffaruddin Al-Kaukabri atau Sultan Muzhaffar.
Dalam peringatannya, sultan Muzhaffar mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh ulama dari berbagai disiplin ilmu. Kegiatannya berlangsung selama tiga hari. Sejak itu, sebelum hari pelaksanaan Maulid Nabi, ia melakukan berbagai persiapan. Ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan kepada para hadirin. Segenap ulama saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh Sultan Muzhaffar. Mereka semua berpandangan dan menganggap baik perayaan Maulid Nabi yang digelar untuk pertama kalinya itu.
Namun juga terdapat pihak lain yang mengatakan bahwa Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi adalah orang yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi. Sultan Shalahuddin pada kala itu membuat perayaan Maulid dengan tujuan membangkitkan semangat umat Islam yang telah padam untuk kembali berjihad dalam membela Islam pada masa Perang Salib.
Sumber lain muncul bahwa perayaan Maulid Nabi pertama diprakarsai oleh Dinasti Fatimiyyun. Disisi lain ada versi Al Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari Dinasti Fatimiyyun), dan versi ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun).
Koherensi Sejarah Maulid Nabi
Dari berbagai sumber data di atas, penulis menyimpulkan semua relatif benar. Data dan kutipan para banyak tokoh berlandaskan dalil yang ditulis secara berurutan memakai versi pengetahuannya secara kongkret. Yang merujuk pada inti soal perayaan Maulid Nabi, yang biasa dirayakan pada bulan Rabiul Awal. Hal demikian dominan diakui umat Islam meski banyak versi satu ikatan dan tujuan menghormati sang guru tauladan.
Maulid Nabi menjadi tradisi umat Islam di seluruh dunia, dari masa ke masa dan dalam setiap generasi ke genarasi. Hal ini, bukti sejarah Islam bahwa Nabi Muhammad SAW, mempunyai keterikatan spritual yang beda dengan manusia biasa. Berabad –abad sebelum Islam lahir dunia terkapar kegelapan, dan hancurannya iman manusia. Orang-orang banyak yang bejad, serakah, dan tak bertuhan pada Allah SWT.
Dengan ulah kaum jahiliyah dulu, mereka menciptakan patung sebagai tuhan dari dirinya, yang diberi nama Uzdza, Lattha, dan Manath. Patung itulah yang di yakini sebagai pemuja yang berkuasa di alam ini. Mereka dusta dengan ajaran para Nabi sebelumnya. Kekaburan moral mereka –pun menyimpang. Dunia gelap dan hancur. Lahirlah seorang Rasul terakhir dari penutup para Nabi ialah Nabi Muhammad SAW. Sampai saat ini beliau lembut di garis peradaban, dan di agungkan di mata umat.
Hingga beliau wafat potret perjuangannya dalam mengibarkan agama Islam masih melekat sampai saat ini. Dari penderitaan dan pencacimakian, terkubur sebuah proses penegakan prinsip yang luar biasa. Tak kenal menyerah dan lelah. Beliau korbankan jiwa dan raganya demi agama Allah SWT. Terutama karabat familinya sendiri yang berprilaku bengis, seperti Abu Jahal, dan Abu Lahab.
Maulid Nabi Dalam Tradisi Masyarakat Jawa
Masyarakat muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan, seperti pembacaan shalawat nabi, pembacaan syair Barzanji, dan pengajian. Menurut pandangan umat Islam di Indonesia bulan Rabiul Awal disebut bulan ‘Mulud, dan acara Muludan juga dirayakan dengan perayaan menurut tradisinya masing-masing.
Seperti festival Gerebeg perayaan Maulid Nabi di Yogyakarta. Dengan tradisinya yang berlangsung, masyarakat turut berpartisipasi merayakan hari kelahiran Nabi Muhammada SAW. Masyarakat yang ikut merayakan di tuntut untuk menguyah sirih di halaman Masjid Agung agar dianugrahi awet muda.
Di Banten dengan tradisinya berendam di kolam Masjid Agung Banten. Sebelumnya di gelar sebuah ziarah besar-besaran ke makam para sultan, antara lain Sultan Hasanuddin secara bergiliran. Dalam tradisinya masyarakat Banten mempercayai akan mendapatkan berkah hidup, yang dijauhi oleh marabahaya dan petaka.
Sementara di Cirebon pada tanggal 11-12 Rabiul Awal banyak orang Islam datang ke makam Sunan Gunung Jati. Di keraton tersebut biasanya diselenggarakan upacara Panjang Jimat, yakni memandikan pusaka-pusaka kraton peninggalan Sunan Gunung Jati. Banyak orang yang berebut untuk memperoleh air bekas cucian tersebut, karena dipercaya akan membawa keberuntungan.
Sedangkan taradisi Maulid Nabi di Madura berlangsung selama satu bulan. Perayaannya tidak hanya di gelar di tempat-tempat ibadah, seperti masjid dan musalla. Akan tetapi di rumah-rumah warga dengan cara mengundang para tetangganya dan sanak keluarganya. Perayaan tersebut membacakan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW atau pembacaan Barzanji. Namun ada juga sebagian warga yang merayakan dengan “tembang macapat”, yakni berbahasa jawa yang berisi tentang kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW.
Harmonisasi
Dari semua aspek perayaan Maulid Nabi di atas, adalah upaya besar untusiasme masyarakat Islam menyambut dengan berdasarkan tradisinya masing-masing. Penulis meyakini hakikat dari semua tradisi yang berlangsung memiliki satu tujuan yaitu untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi muhammad SAW yang mengenang jasa beliau menyampaikan ajaran Islam kepada kita semua.
Dengan dimikian, dari semrawut banyaknya pandangan. Penulis memiliki sebuah versi dalam menyikapi Maulid Nabi yang berdasarkan nash dalil Al-Qur’an.
Pertama, apakah Nabi itu sendiri tidak merayakan Maulid Nabi? Beliau merayakan, ketika ditanya oleh seorang sahabat beliau menjawab dengan berpuasa hari senin dan hari kamis. Karena pada hari itu merupakan hari kelahirannya dan hari wafatnya.
Kedua, Nabi Muhammad sebagai pembawa pijar-pijar kemenangan. Dari sekian musyriknya banyak golongan kala itu (QS. Yunus [10] : 58). Beliau datang sebagai penerang (QS. Al-Anbiya [21] : 107). Sehingga kita tidak bisa melupakan sejarah tersebut. Caranya dengan menghormati sebuah kegembiraan, bahwa kita sebagai umatnya menyadari kita lebih baik dari umat sebelumnya.
Ketiga, dengan di utusnya Nabi Muhammad SAW lahir ke dunia, Allah, para Malaikat, dan orang yang beriman mengucapkan salam penghormatan kepada Beliau (QS. Al-Ahzab [33] : 56). Kita selaku umatnya Beliau, patut memberi salam rasa syukur kepada Allh SWT.

Dari tulisan yang sederhana ini, semoga kita mendapat nilai syafaat dari baginda Nabi Muhammad SAW. Marilah rajut kerukunan Islam dengan mentauladani prilaku Beliau yang harmoni. Tak ada kata yang pantas selain menyelipkan sebuah doa di sela-sela sujud kita sebagai umatnya yang taat. Amin.
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Ka-conk Mahfud
Copyright © 2014. Suara AF-IC - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger